Trip kali ini masih tetap ke kota Barru, hanya saja lokasi yang dituju adalah sebuah keramba yang berlokasi tidak jauh dari pelabuhan Awerange. Keramba ini merupakan lokasi idola dan lokasi andalan Lakekomai Fishing Club. Selain lokasinya yang relatif aman dari gelombang yang besar, target di tempat ini sangat beragam dan berukuran lumayan besar.
Berdasarkan kesepakatan, setiap anggota tim yang ingin berangkat wajib berkumpul pada hari Sabtu 17 Januari 2009 pukul 13.00 di rumah bro Ndial (terlambat dianggap mengundurkan diri).
Karena kesibukan masing-masing, maka tidak semua anggota tim ikut berangkat. Mereka yang berangkat kali ini adalah : Bro Ndial, Bo Gassing, Bro Ndian, Bro Ra’ba, Bro A’als, Bro Moes, Bro Zhoel, Bro Real, Bro Jago, Bro Nui, dan Bro R-Lank.
Sekitar pukul 13.15, tim mulai berangkat meninggalkan kota Maros dan tiba di lokasi sekitar pukul 16.00.
Setelah menyiapkan alat pancing masing-masing, acara memancing pun dimulai. Setelah 30 menit berlalu, kami mulai merasa ada sesuatu yang aneh karena belum satu ekor ikan pun yang mampu dinaikkan. Padahal 2 bulan yang lalu, di tempat yang sama hampir setiap lima menit ada saja anggota tim yang strike meskipun kebanyakan hanya berukuran 5 sampai 7 jari.
Ternyata berdasarkan informasi dari empunya keramba, keramba ini telah bergeser kurang lebih 50 meter dari lokasi semula sehingga ikan-ikan besar yang dulunya telah bersarang tepat di bawah keramba, sekarang berada sekitar 50 meter di sebelah kiri keramba. (nasiiiib ya nasiiiiib)
Satu per satu anggota tim mulai silih berganti berteriak strike dan suasana memancing mulai menyenangkan dan meriah. (meriah ???....emangnya pasar malam ….?!!)
Pada trip kali ini terukir sebuah sejarah dalam lingkup Lakekomai Fishing Club. Bro A’als dengan joran dan reel Shimano andalannya berhasil mendapat Barracuda berukuran 74 cm dengan menggunakan minnow yang dia beli beberapa waktu lalu. Yang sejarah disini bukan ikannya, tetapi umpan minnow merk rapala yang digunakan merupakan umpan buatan pertama dalam tim ini yang berhasil mendapatkan ikan. Maklum, artificial lure adalah hal baru bagi tim ini dan tidak semua anggota tim yang berminat menggunakan umpan jenis ini. (utamanya Bro Gassing).
Habis shalat Magrib dan makan malam, umpan untuk memancing cumi mulai disiapkan. Namun sampai jam 10 malam umpan ini tidak dipakai, soalnya tak satupun cumi yang menampakkan diri. Akhirnya kembali lagi deh, konsentrasi untuk mancing ikan.
Ketika jam mulai menjukkan pukul 12 malam akhirnya satu per satu anggota tim mulai terlelap dalam dinginnya angin laut. Namun sekitar pukul 01.30 dini hari angin terasa semakin kencang. Sekitar setengah jam kemudian angin mulai diikuti hujan yang membuat kami akhirnya harus meninggalkan tempat tidur dan mencari tempat untuk berlindung dari hujan, soalnya meskipun keramba ini memiliki atap namun hanya sedikit bagian yang memiliki dinding. Berhubung angin yang berhembus sangat kencang jadi seakan-akan hujan bukannya dari atas tapi dari samping sehingga tempat kami tidur jadi basah.
Melihat kami panik, sang empunya keramba akhirnya menghampiri sambil berusaha untuk menenangkan. ”Biasa ji ini, paling lama tiga jam. Kalo badainya besar tidak bisa ki jalan di atas keramba” katanya. Ternyata ini badai to ??!. bukannya tenang, tapi beberapa teman tampaknya makin panik.
Sesuai dengan ramalan empunya keramba, badai akhirnya berangsur-angsur reda sekitar pukul 03.15. karena tempat tidurnya terlanjur basah, daripada duduk diam mending mancing lagi. Hasilnya lumayan banyak. Mungkin ikannya juga lapar habis dihantam badai.
Habis sarapan, mancing lanjut lagi. Mancing pagi ini lumayan asyik, bahkan Bro Nui dan Bro Moes sempat strike monster namun karena kurang sabar menunggu jaring akhirnya ikannya lepas. Selang beberapa waktu kemudian giliran Bri Gassing yang strike, semua mata kini tertuju padanya. Joran exory 270 miliknya seakan-akan tidak sanggup untuk manahan perlawanan ikan tersebut. Beberapa anggota mulai membantu dengan menyiapkan jaring dan gancu. Setelah bertarung sekitar lima menit, sang ikan mulai menunjukkan dirinya. Diameternya sih cuman sekitar 10 cm tapi panjangnya diatas dua meter. Jenis ikannya sih kami tidak tahu, tapi kalau orang sini menyebutnya dengan Massapi Tasi’ (bugis). Dua menit kemudian ikannya berhasil dinaikkan, namun tidak ada yang berani memegang. Mungkin geli, tapi mungkin juga takut.
Pukul 03.00 kami akhirnya memutuskan untuk meninggalkan lokasi. Meskipun sedikit mngecewakan dibanding 2 bulan lalu, namun hasilnya lumayan. Kalau dirata-ratakan ikan yang didapatkan sekitar 20 sampai 25 ekor per orang.Alhamdulillah sekitar pukul 18.00 kami sudah tiba di kota Maros.
Minggu, 25 Januari 2009
Cilellang 01
Hari Sabtu tanggal 10 Januari 2009 kami trip ke perbatasan Kabupaten Barru dan Kota Parepare, nama lokasinya adalah Cilellang. Katanya disana kita mancing di muara.
Tidak semua anggota tim bisa ikut. Bro Danil, Bro Abs, dan Bro Moes lagi sibuk, Bro Ndian lagi jagain rumah (ntar rumahnya lari katanya) sedangkan Bro Lewa lagi jagain istri, soalnya hari sebelumnya (9 januari 2009) beliau mendapat momongan. Selamat yaaaa….. Satu lagi, Bro Youdhi juga tidak bisa ikut karena lagi mempersiapkan diri untuk ujian meja. Semoga sukses Bro…..
Jadi yang ikut trip kali ini hanya Bro Ndial, Bro Gassing, Bro A’als, Bro Real, Bro Nui, Bro Jago, dan Bro Zoel.
Pukul 14.30 kami berangkat meninggalkan kota Maros. Perjalanan lumayan melelahkan karena jalan banyak yang berlubang (maklum musim hujan). Pukul 17.00 perut mulai keroncongan (bugis: malupu’). Untungnya begitu sampai di kota Barru, Bro A’als inisiatif mau traktir makan disalah satu warung pinggir jalan. Singkat kata, begitu selesai makan dan ingin membayar, seluruh isi perut rasanya hilang lagi. Ternyata harga satu porsi Rp. 30.000. Sebenarnya harga tidak begitu masalah, hanya saja perbandingan harga dan makanan sangat tidak sebanding. Sekedar gambaran, satu porsi itu terdiri dari :
1 piring nasi
3 ekor udang (sebesar telunjuk)
1 mangkuk sup
+ rasa yang biasa-biasa saja
Sebanding tidak ???!!!
Ampuuuuuuuuunnn ………………………………
I Swear, saya tidak akan makan lagi di tempat itu kalau tidak ditraktir. (hehheee…)
Pukul 17.30 perjalanan dilanjutkan. Sekitar pukul 18.00 kami tiba disalah satu pesantren di pinggiran kota Barru (sekitar 15 km dari tujuan). Setelah shalat Magrib, kami masih tinggal sekitar 2 jam karena Bro Ndial ada beberapa urusan di Pesantren ini.
Sekitar Pukul 20.00 perjalanan dilanjutkan, dan akhirnya 20 menit kemudian kami tiba di lokasi.
Begitu tiba di rumah tempat kami menginap, ternyata hujan masih turun. Sekedar informasi, sejak start dari kota Maros sampai di lokasi tujuan hujan tidak pernah berhenti mengguyur. Jadi kalau dihitung-hitung, kami diguyur hujan tanpa henti sekitar 6 jam lamanya.
Menurut rencana, begitu tiba di lokasi kita akan langsung mancing namun karena hujan yang semakin lebat kami terpaksa hanya mempersiapkan alat pancing masing-masing.
Sekitar pukul 23.10 hujan mulai reda, kami pun keluar untuk memancing sekedar untuk melepas penasaran sejak siang tadi. Berhubung khawatir hujan tiba-tiba turun lagi, kami hanya memancing di sekitar rumah, kebetulan rumahnya dekat jembatan.
Akhirrrrnya …… mulai deh memancingnya.
Arus yang sangat deras terus membawa umpan menuju ke arah laut, sehingga kenur sepanjang 150 meter nyaris terpakai habis.
Pukul 01.00 dini hari akhirnya kami menyerah dan pulang tanpa hasil.
Keesokan harinya ternyata cuaca masih belum bersahabat, sehingga kami memutuskan untuk mencari lokasi lain yang memiliki tempat untuk berteduh sehingga memungkinkan untuk tetap mancing walaupun sedang hujan.
Berdasarkan informasi dari tuan rumah kami akhirnya menuju ke sebuah pelabuhan kapal kecil, namanya pelabuhan Awerange. Dan terrrrnya …. disana sama sekali tidak ada tempat untuk berteduh dalam radius 500 meter dari lokasi pemancingan. Berhubung sudah terlanjur berada di lokasi dan hujan mulai reda, kami pun memutuskan untuk mulai memancing.
Belum sampai 15 menit hujan kembali turun dengan deras. Apa boleh buat, mancing tetap berlanjut meskipun harus berhujan-hujan ria…
Sekitar 1 jam kemudian hujan semakin lebat, kami pun semakin kedinginan dan terpaksa kami menyerah (lagi).
Entah sial atau memang lagi apes, dari semua anggota tim hanya bro Gassing yang berhasil membawa pulang ikan, itupun hanya dua ekor ikan kecil seukuran tiga jari. Ampuuuunnn……….
Akhirnya kami langsung pulang dan tiba di kota Maros sekitar pukul 16.30 wita.
Tidak semua anggota tim bisa ikut. Bro Danil, Bro Abs, dan Bro Moes lagi sibuk, Bro Ndian lagi jagain rumah (ntar rumahnya lari katanya) sedangkan Bro Lewa lagi jagain istri, soalnya hari sebelumnya (9 januari 2009) beliau mendapat momongan. Selamat yaaaa….. Satu lagi, Bro Youdhi juga tidak bisa ikut karena lagi mempersiapkan diri untuk ujian meja. Semoga sukses Bro…..
Jadi yang ikut trip kali ini hanya Bro Ndial, Bro Gassing, Bro A’als, Bro Real, Bro Nui, Bro Jago, dan Bro Zoel.
Pukul 14.30 kami berangkat meninggalkan kota Maros. Perjalanan lumayan melelahkan karena jalan banyak yang berlubang (maklum musim hujan). Pukul 17.00 perut mulai keroncongan (bugis: malupu’). Untungnya begitu sampai di kota Barru, Bro A’als inisiatif mau traktir makan disalah satu warung pinggir jalan. Singkat kata, begitu selesai makan dan ingin membayar, seluruh isi perut rasanya hilang lagi. Ternyata harga satu porsi Rp. 30.000. Sebenarnya harga tidak begitu masalah, hanya saja perbandingan harga dan makanan sangat tidak sebanding. Sekedar gambaran, satu porsi itu terdiri dari :
1 piring nasi
3 ekor udang (sebesar telunjuk)
1 mangkuk sup
+ rasa yang biasa-biasa saja
Sebanding tidak ???!!!
Ampuuuuuuuuunnn ………………………………
I Swear, saya tidak akan makan lagi di tempat itu kalau tidak ditraktir. (hehheee…)
Pukul 17.30 perjalanan dilanjutkan. Sekitar pukul 18.00 kami tiba disalah satu pesantren di pinggiran kota Barru (sekitar 15 km dari tujuan). Setelah shalat Magrib, kami masih tinggal sekitar 2 jam karena Bro Ndial ada beberapa urusan di Pesantren ini.
Sekitar Pukul 20.00 perjalanan dilanjutkan, dan akhirnya 20 menit kemudian kami tiba di lokasi.
Begitu tiba di rumah tempat kami menginap, ternyata hujan masih turun. Sekedar informasi, sejak start dari kota Maros sampai di lokasi tujuan hujan tidak pernah berhenti mengguyur. Jadi kalau dihitung-hitung, kami diguyur hujan tanpa henti sekitar 6 jam lamanya.
Menurut rencana, begitu tiba di lokasi kita akan langsung mancing namun karena hujan yang semakin lebat kami terpaksa hanya mempersiapkan alat pancing masing-masing.
Sekitar pukul 23.10 hujan mulai reda, kami pun keluar untuk memancing sekedar untuk melepas penasaran sejak siang tadi. Berhubung khawatir hujan tiba-tiba turun lagi, kami hanya memancing di sekitar rumah, kebetulan rumahnya dekat jembatan.
Akhirrrrnya …… mulai deh memancingnya.
Arus yang sangat deras terus membawa umpan menuju ke arah laut, sehingga kenur sepanjang 150 meter nyaris terpakai habis.
Pukul 01.00 dini hari akhirnya kami menyerah dan pulang tanpa hasil.
Keesokan harinya ternyata cuaca masih belum bersahabat, sehingga kami memutuskan untuk mencari lokasi lain yang memiliki tempat untuk berteduh sehingga memungkinkan untuk tetap mancing walaupun sedang hujan.
Berdasarkan informasi dari tuan rumah kami akhirnya menuju ke sebuah pelabuhan kapal kecil, namanya pelabuhan Awerange. Dan terrrrnya …. disana sama sekali tidak ada tempat untuk berteduh dalam radius 500 meter dari lokasi pemancingan. Berhubung sudah terlanjur berada di lokasi dan hujan mulai reda, kami pun memutuskan untuk mulai memancing.
Belum sampai 15 menit hujan kembali turun dengan deras. Apa boleh buat, mancing tetap berlanjut meskipun harus berhujan-hujan ria…
Sekitar 1 jam kemudian hujan semakin lebat, kami pun semakin kedinginan dan terpaksa kami menyerah (lagi).
Entah sial atau memang lagi apes, dari semua anggota tim hanya bro Gassing yang berhasil membawa pulang ikan, itupun hanya dua ekor ikan kecil seukuran tiga jari. Ampuuuunnn……….
Akhirnya kami langsung pulang dan tiba di kota Maros sekitar pukul 16.30 wita.
Langganan:
Postingan (Atom)